cerita sekilas;fiction

21 September 2012 § Tinggalkan komentar

Senja Kota

Hampir setengah tahun kita pacaran. Agh, terlalu jijik dengan kata pacaran. Ralat, saya lebih suka bilang kita berteman namun kita berpegangan tangan.. sedikit berbeda dengan pertemanan yang lainnya, hsssst.. kita cukup mesrah bukan!.

Kamu masih ingat, sore-sore memaksa saya berkeliling trotoar.. Kamu bilang senja kota lebih indah dan tidak cengeng. Kita lingkari trotoar taman, sengaja mencabuti helai-helai rumput pagar hingga tukang sapu taman lelah.. kamu sintTTing, tapi saya suka.

“ini hampir gelap, sampai kapan kita menunggu senja?”

Hampir seluruh pertanyaan saya yang kamu jawab datar dengan senyuman. Sudah lima kali kita memutari  trotoar. Entah kenapa tidak ada lelah dari saya, mungkin karna energy yang kamu salurkan melalui jari-jari tangan.

“hsssst! jangan berisik, senja kota sudah datang.”

***

Sudah satu tahun kita pacaran. Agh saya lupa, terlalu jijik dengan kata pacaran. Kamu bilang kita jangan berlebihan!! Tapi kita berpegangan tangan. Kamu benar-benar tidak romantis, bahkan kamu tidak pernah membahas cinta diantara kita. Haiz, sudahlah.. saya sudah cukup puas dengan siulan-siulan-mu, nada-nadanya  selalu ber-irama membentuk lingkaran cinta.

***

Saya bergegas membuka jendela, udara pagi begitu menyengat. Tapi kamu tidak juga datang, kamu janji kan, kamu akan pulang cepat. Sudah satu tahun kita tidak berpegangan tangan. Apa kamu sudah muak dengan saya? Apa kamu sudah lupa dengan senja kota?

*new message 16:49 ; “aku tunggu kamu di senja kota!! cinta  ”

Saya berlari bahagia mengejar senja, melewati taman, melalui trotoar dan  helaian rumput pagar. Sepertinya kamu belum tahu bila saya lelah, saya benci lari, saya benci senja.

“maaf, apa saya terlambat?”

“hsssst! jangan berisik, senja kota sudah datang.”

Kita begitu menikmati senja, bahkan kamu tidak tahu akan saya lelah. Kamu masih seperti biasa dengan senyuman yang begitu datar, bersiul-siul membentuk irama lingkaran cinta. Haiz, kamu masih saja mencabuti helai-helai rumput pagar hingga tukang sapu taman lelah.. kamu sengaja kan? kamu bilang senja kota hanya untuk kita.. tukang sapu mana boleh menikmati senja.

“apa senja kota pernah lelah?”

“tidak, ia tidak cengeng”

saya cengeng, bahkan saya lelah, bahkan kamu tidak peduli.

***

Sudah satu minggu kita menikmati senja, tentu saja bersama. Kamu bilang tahun ini akan sibuk sekali, mungkin hanya akan menelpon sesekali, saat kamu merindukan senja. Saya sangat paham, perjuangan mendapatkan kursi mahasiswa disana memang tidak mudah dan saya senang bila nanti kamu berhasil dengan segala pengorbanan.

“do you trust me?”

Iya, iya… Saya percaya kamu, bahkan sangat mengerti kamu, walaupun saya masih berharap suatu saat nanti kita bisa saling mengerti!!

***

Sepertinya kamu sibuk sekali, bahkan ketika saya lelah juga kamu tidak peduli. Sudah hampir satu tahun kamu disana, Entah… mungkin tahun ini kita tidak akan menikmati senja, tentu saja bersama. Bagi saya itu tidak masalah, kamu bilang senja kota tidak cengeng bukan!!. Kamu hanya menelpon sesekali saja, saat kamu merindukan senja. Senja!! Saya benci senja, bahkan kamu tidak peduli.

***

Hari ini saya diam-diam menemui senja, senja kota yang kamu bilang itu indah. Saya benar-benar iri pada-nya, bisa-bisanya kamu merindukan senja dan acuh kan saya. Apa bagusnya senja, ia rela meninggalkan siang demi malam.. senja egois, senja sadis.. saya benci senja.

***

Kamu tahu, sekarang tidak ada lagi yang menikmati senja, senja kota yang kamu bilang itu indah. Bahkan tukang sapu taman-pun sudah tidak ada. Kata orang sekitar, dia mati kelelahan menyapui helaian-helaian rumput pagar. Ini semua karna kamu, kamu sengaja kan? Kamu sama saja seperti senja, kamu egois, kamu sadis.

Taman menjadi kotor, helai-helai rumput pagar berterbangan mengelilingi trotoar. Mereka berpegangan tangan, bersiul-siul menikmati senja kota yang ‘cuiih’ katanya indah.

***

Tahun berlalu santai tanpa senja.. kamu janji kan pekan ini akan pulang!! Saya sudah menunggu kamu di taman, berharap kamu membawa satu tangkai mawar putih tanda cinta..

***

Saya temui kamu di taman.. sudah diduga- walau tanpa tanda cinta. Kamu hanya sibuk sekali menyapu halaman. Sepertinya kamu tidak ingin helai-helai rumput pagar menikmati senja kota. Kamu bilang senja kota hanya untuk kita.. rumput pagar mana boleh menikmati senja.

“apa yang kamu suka dari senja?”

“saya suka, ia tidak cengeng”

Saya cengeng, mungkin kamu tidak suka, mungkin saya hanya teman kencan di senja kota. ^^

project nbc klub palembang 2011*

Tagged: , , , , , , , , , , , ,

Komentar ditutup.

What’s this?

You are currently reading cerita sekilas;fiction at Orangekusuka.

meta

%d blogger menyukai ini: